Satu Sapi penakluk Dahaga dan Lapar di AfrikaSaat Kita Kebingungan Memilih Menu Makan Malam, Mereka Bingung Apakah Esok Hari Masih Bisa Bertahan Hidup.Desa-desa di Afrika masih dilanda krisis iklim dan konflik berkepanjangan ini selalu berdampingan dengan satu kata, yaitu kata "lapar". Lapar di sana bukan berarti perut keroncongan karena terlambat makan siang. Lapar di sana berarti menatap tubuh anak-anak yang semakin kurus dari hari ke hari, sementara sang ibu merebus dedaunan atau akar liar sekadar untuk memanipulasi perut yang perih.
Dalam krisis pangan seperti ini, ibadah kurban berubah dimensi. Ia melampaui batas ritual tahunan. Kurban berubah menjadi intervensi medis alami. Ia menjadi misi penyelamatan massal yang memutus rantai gizi buruk di sebuah desa di Sudan dan Somalia.
Jarak antarbenua itu kini bisa kita lipat lewat inisiatif kolaboratif di temanberbagi.org. Kami telah membuka jalur distribusi ke pusat-pusat krisis pangan terburuk di Afrika, memastikan niat baik Anda tiba tepat di wilayah yang paling rawan.
Bayangkan jika seekor sapi/kerbau yang Sahabat kirimkan, dapat memulihkan energi ratusan anak yang kelaparan, dan memberikan napas panjang bagi puluhan keluarga untuk terus bertahan menatap esok hari. Kita memang tidak bisa menghentikan kemarau panjang di benua sana. Namun, hari ini, di tangan Sahabat, ada kuasa untuk menghentikan kelaparan di satu desa kecil di Afrika.
Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama untuk sebuah harapan yang bisa Sahabat kirimkan sekarang.